TULISKITA.COM – Pernah nggak sih kamu ngerasa udah kirim puluhan lamaran kerja, tapi balasannya nihil? Atau mungkin CV dan portofolio kamu udah bagus menurutmu, tapi kok rasanya kurang greget di mata HR? Tenang, kamu nggak sendirian!
Di tahun 2026 ini, persaingan kerja makin ketat. HR sekarang nggak cuma nyari kandidat yang punya skill, tapi juga yang bisa “jualan diri” lewat CV dan portofolio yang menarik. Nah, di artikel ini, kita bakal bahas tuntas gimana caranya bikin CV dan portofolio yang bikin HR langsung tertarik buat ngundang kamu interview.

Kenapa CV dan Portofolio Itu Penting Banget?
Sebelum masuk ke tips-tipsnya, kita harus paham dulu nih kenapa CV dan portofolio itu crucial banget dalam proses rekrutmen.
Bayangin aja, HR itu setiap hari bisa nerima ratusan bahkan ribuan lamaran. Mereka nggak punya banyak waktu buat baca satu per satu dengan detail. Rata-rata, HR cuma spending 6-7 detik buat scan sebuah CV! Crazy, kan?
Makanya, CV dan portofolio kamu harus bisa langsung eye-catching dalam hitungan detik itu. Kalau nggak, ya bye-bye peluang interviewmu.
Cara Membuat CV yang Menarik di 2026
Oke, sekarang kita masuk ke bagian inti. Gimana sih cara bikin CV yang nggak cuma bagus, tapi juga efektif? Yuk, simak tips-tipsnya!
1. Sesuaikan CV dengan Setiap Posisi yang Kamu Lamar
Ini kesalahan paling umum yang sering dilakukan job seeker: pakai CV yang sama buat semua posisi. Big mistake!
Setiap posisi punya kebutuhan yang beda-beda. Jadi, kamu harus customize CV kamu sesuai dengan job description yang kamu lamar. Caranya gimana?
- Baca job description dengan teliti
- Identifikasi skill dan pengalaman yang mereka cari
- Highlight pengalaman dan skill kamu yang paling relevan dengan posisi tersebut
- Sesuaikan deskripsi profil di bagian atas CV
Dengan begini, HR langsung bisa lihat kalau kamu emang cocok banget sama posisi yang mereka buka.
2. Manfaatkan Kata Kunci untuk Lolos Sistem ATS
Nah, ini nih yang sering dilupain. Sekarang banyak perusahaan pakai sistem ATS (Applicant Tracking System) buat screening CV. Jadi, sebelum CV kamu sampai ke meja HR, dia harus lolos dulu dari “robot” ini.
Gimana caranya? Gunakan kata kunci yang ada di job description!
Misalnya, kalau di job description tertulis mereka nyari kandidat dengan skill “digital marketing, SEO, dan Google Analytics,” pastikan kata-kata itu muncul di CV kamu (kalau emang kamu punya skillnya ya, jangan ngasal!).
Tips tambahannya:
- Jangan cuma tulis skill dalam bentuk list, tapi integrasikan juga dalam deskripsi pengalaman kerja
- Gunakan variasi kata kunci (misalnya: “social media marketing” dan “pemasaran media sosial”)
- Hindari penggunaan tabel atau kolom yang rumit karena bisa bikin ATS bingung
3. Fokus pada Pencapaian, Bukan Cuma Tugas
Ini game changer banget! Daripada cuma nulis “Bertanggung jawab untuk mengelola social media,” lebih baik tulis pencapaian yang konkret dan terukur.
Contohnya:
“Meningkatkan engagement Instagram sebesar 150% dalam 3 bulan melalui strategi konten yang konsisten dan kolaborasi dengan micro-influencer.”
Lihat bedanya? Yang kedua lebih powerful karena menunjukkan hasil nyata yang kamu capai.
Gunakan kata kerja aktif seperti:
- Mengembangkan
- Menciptakan
- Memimpin
- Meningkatkan
- Mengoptimalkan
- Merancang
- Mengelola
4. Gunakan Format STAR untuk Ceritakan Pengalaman
Format STAR ini super helpful buat menjelaskan pengalaman kerja kamu dengan struktur yang jelas:
- Situation (Situasi): Kondisi atau tantangan yang kamu hadapi
- Task (Tugas): Apa yang jadi tanggung jawab kamu
- Action (Aksi): Langkah-langkah yang kamu ambil
- Result (Hasil): Hasil yang kamu capai
Contoh penerapannya:
“Ketika perusahaan mengalami penurunan penjualan 20% (Situation), saya ditugaskan untuk merevitalisasi strategi marketing (Task). Saya menganalisis data customer, merancang ulang funnel marketing, dan melakukan A/B testing untuk kampanye digital (Action). Hasilnya, penjualan meningkat 35% dalam kuartal berikutnya (Result).”
5. Desain yang Profesional dan ATS-Friendly
Desain CV di 2026 ini harus balance antara menarik secara visual tapi tetap bisa dibaca sistem ATS. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Gunakan font yang simpel dan profesional seperti Arial, Calibri, atau Helvetica
- Ukuran font 10-12 pt untuk body text, 14-16 pt untuk heading
- Hindari penggunaan grafik, tabel kompleks, atau kolom multiple yang bisa bikin ATS error
- Gunakan bullet points untuk memudahkan scanning
- Pastikan spacing yang cukup antar section
- Save dalam format .docx atau PDF standar (bukan PDF hasil scan)
- Maksimal 2 halaman untuk fresh graduate, 3 halaman untuk yang berpengalaman
Pro tip: Kalau kamu mau desain yang lebih kreatif (misalnya untuk posisi desain grafis atau kreatif), buat dua versi CV. Satu yang ATS-friendly untuk upload ke sistem, satu lagi yang lebih visual untuk portfolio atau kirim langsung ke hiring manager.
6. Cantumkan Proyek Pribadi atau Freelance
Buat kamu yang fresh graduate atau career switcher dengan pengalaman kerja formal yang minim, jangan khawatir! Kamu bisa kok masukin proyek pribadi atau freelance di CV.
Ini justru menunjukkan inisiatif dan passion kamu di bidang tersebut. Misalnya:
- Proyek website pribadi atau blog
- Freelance projects yang pernah kamu kerjakan
- Kontribusi di open source projects
- Volunteer work yang relevan
- Kompetisi atau hackathon yang pernah kamu ikuti
Yang penting, jelaskan dengan jelas apa yang kamu kerjakan dan hasil apa yang kamu capai.
Cara Membuat Portofolio yang Menarik di 2026
Kalau CV adalah tiket masuk kamu, portofolio adalah bukti nyata kemampuan kamu. Especially penting banget buat kamu yang kerja di bidang kreatif, tech, atau apapun yang hasil kerjanya bisa divisualisasikan.
1. Pilih Karya Terbaik, Quality Over Quantity
Portofolio bukan tempat buat naruh semua karya yang pernah kamu bikin dari zaman SMP. Pilih yang terbaik aja!
Idealnya, portofolio itu berisi 5-10 proyek terbaik yang bener-bener showcase kemampuan kamu. Lebih baik sedikit tapi berkualitas tinggi daripada banyak tapi biasa-biasa aja.
Kriteria memilih karya:
- Menunjukkan skill yang beragam
- Punya hasil atau impact yang jelas
- Relevan dengan bidang pekerjaan yang kamu incar
- Secara visual atau konsep menarik dan unik
2. Sesuaikan Portofolio dengan Posisi yang Dilamar
Sama seperti CV, portofolio juga harus disesuaikan dengan posisi yang kamu lamar.
Misalnya, kalau kamu apply sebagai UI/UX Designer di sebuah fintech startup, showcase lebih banyak proyek yang related dengan aplikasi finance, dashboard, atau user interface yang clean dan functional.
Kalau kamu punya banyak karya di berbagai niche, consider untuk bikin beberapa versi portofolio atau minimal urutannya disesuaikan dengan yang paling relevan di bagian depan.
3. Tampilkan Proses Kerja, Bukan Cuma Hasil Akhir
Ini yang sering terlewat! HR atau hiring manager nggak cuma pengen lihat hasil akhir yang cantik, tapi juga gimana proses kamu sampai ke sana.
Tampilkan:
- Brief atau problem statement awal
- Research dan analisis yang kamu lakukan
- Sketches atau wireframes awal
- Iterasi desain atau development
- Challenges yang kamu hadapi dan gimana cara mengatasinya
- Hasil akhir dan dampaknya
Dengan menunjukkan proses, kamu membuktikan bahwa kamu punya critical thinking dan problem-solving skills, bukan cuma jago eksekusi doang.
4. Gunakan Visual yang Menarik dan Profesional
Portofolio adalah tentang first impression. Jadi, pastikan secara visual dia menarik dan profesional.
Tips membuat visual portofolio:
- Gunakan mockup berkualitas tinggi untuk showcase karya
- Pastikan foto atau screenshot jelas dan resolusi tinggi
- Gunakan color scheme yang konsisten
- Typography yang readable dan profesional
- White space yang cukup agar tidak terlihat cramped
- Gunakan grid system untuk layout yang rapi
Tools yang bisa kamu pakai: Figma, Canva, Adobe Portfolio, Behance, atau website builder seperti WordPress, Webflow, atau Framer.
5. Cantumkan Testimoni untuk Boost Kredibilitas
Testimoni dari klien, atasan, atau rekan kerja sebelumnya bisa jadi social proof yang powerful banget.
Minta testimoni yang spesifik, bukan yang generic macam “Dia pekerja yang baik.” Lebih baik yang seperti:
“Bekerja dengan [Nama] sangat menyenangkan. Dia nggak cuma ngerjain brief dengan baik, tapi juga proaktif memberikan ide-ide segar yang akhirnya meningkatkan conversion rate campaign kami sebesar 40%.”
Kalau bisa, sertakan nama lengkap, posisi, dan perusahaan pemberi testimoni untuk meningkatkan kredibilitas.
6. Buat Versi Online yang Mudah Diakses
Di era digital ini, portofolio online adalah must-have. Keuntungannya:
- Bisa diakses kapan saja, di mana saja
- Mudah di-share lewat link
- Bisa di-update sewaktu-waktu
- Menunjukkan bahwa kamu tech-savvy
- SEO-friendly jadi bisa ketemu lewat Google search
Platform yang bisa kamu pakai:
- Behance: Cocok untuk desainer, illustrator, fotografer
- Dribbble: Untuk UI/UX designer
- GitHub: Wajib buat developer
- Medium atau personal blog: Buat content writer, copywriter, atau marketer
- LinkedIn: Sekarang LinkedIn juga udah support portfolio feature
- Website pribadi: Paling fleksibel dan profesional
Pro tip: Beli domain sendiri (misalnya namakami.com) biar keliatan lebih profesional dibanding pakai subdomain gratis.
7. Update Portofolio Secara Berkala
Portofolio bukan dokumen sekali jadi yang bisa kamu biarin berdebu. Update terus dengan proyek-proyek dan pencapaian terbaru kamu.
Set reminder untuk review dan update portofolio setiap 3-6 bulan sekali. Hapus karya lama yang udah nggak relevan atau kualitasnya udah di-outshine sama karya baru kamu.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah bahas do’s, sekarang kita bahas juga don’ts-nya. Ini beberapa kesalahan yang sering terjadi:
Kesalahan di CV:
- Typo dan grammar error (ini fatal banget!)
- Informasi kontak yang nggak lengkap atau salah
- Foto yang nggak profesional atau malah nggak relevan
- Terlalu panjang dan bertele-tele
- Menggunakan alamat email yang nggak profesional (contoh: [email protected])
- Mencantumkan informasi yang nggak relevan (hobby, status pernikahan, dll untuk pasar internasional)
- Desain yang terlalu ramai atau susah dibaca
Kesalahan di Portofolio:
- Nggak ada deskripsi atau context untuk setiap karya
- Terlalu banyak karya sehingga kualitas jadi menurun
- Loading time yang lama
- Nggak mobile-friendly
- Link yang broken atau nggak berfungsi
- Navigasi yang membingungkan
- Lupa mencantumkan kontak atau CTA
Tools dan Resources yang Bisa Kamu Manfaatkan
Biar makin mudah, ini beberapa tools yang bisa membantu kamu bikin CV dan portofolio yang menarik:
Untuk CV:
- Canva: Template CV yang beragam dan mudah di-customize
- Novoresume: CV builder khusus yang ATS-friendly
- Resume.io: AI-powered CV builder
- Grammarly: Untuk cek grammar dan typo
- Jobscan: Tools untuk optimize CV agar lolos ATS
Untuk Portofolio:
- Figma/Adobe XD: Untuk desain portofolio
- Webflow/Framer: Website builder tanpa coding
- WordPress: Flexible dan powerful
- Notion: Simple portfolio builder
- Carbonmade: Portfolio builder khusus untuk creatives
Checklist Sebelum Mengirim Lamaran
Sebelum kamu klik tombol “kirim,” pastikan kamu udah cek semua hal ini:
- CV dan portofolio udah disesuaikan dengan posisi yang dilamar
- Nggak ada typo atau grammar error
- Informasi kontak lengkap dan benar
- File dalam format yang diminta (biasanya PDF atau DOCX)
- Nama file profesional (misalnya: Nama-CV-Posisi.pdf)
- Link portofolio berfungsi dengan baik
- Email lamaran profesional dan personalized
- Sudah melakukan riset tentang perusahaan
- Semua dokumen pendukung sudah disiapkan
- Follow up plan sudah direncanakan
Tips Bonus: Optimasi LinkedIn sebagai Portofolio Profesional
Jangan lupakan LinkedIn! Platform ini sekarang jadi salah satu tools rekrutmen paling powerful. Pastikan profil LinkedIn kamu juga on point:
- Foto profil profesional
- Headline yang menarik dan jelas
- About section yang engaging
- Pengalaman kerja yang detail dengan pencapaian
- Skills yang relevan dan ter-endorse
- Recommendations dari kolega atau atasan
- Regular posting atau sharing content yang relevan
- Manfaatkan fitur Featured untuk showcase karya terbaik
Banyak recruiter sekarang hunting kandidat langsung dari LinkedIn, jadi pastikan profil kamu mudah ditemukan dan menarik.
Kesimpulan
Membuat CV dan portofolio yang menarik untuk HR di 2026 memang butuh effort dan waktu. Tapi percaya deh, usaha ini bakal worth it banget!
Inget, CV dan portofolio bukan cuma tentang listing skill dan pengalaman. Ini tentang storytelling—gimana kamu bisa menceritakan value yang bisa kamu bawa ke perusahaan dengan cara yang menarik dan meyakinkan.
Key takeaways yang perlu kamu inget:
- Customize CV dan portofolio untuk setiap posisi
- Gunakan kata kunci untuk lolos ATS
- Fokus pada pencapaian yang terukur
- Desain profesional tapi tetap ATS-friendly
- Showcase proses kerja, bukan cuma hasil akhir
- Update secara berkala
- Leverage platform online untuk jangkauan lebih luas
Sekarang giliran kamu action! Coba review CV dan portofolio kamu sekarang. Udah sesuai dengan tips di atas belum? Kalau belum, it’s time to revamp!
Good luck dengan job hunting-nya, dan semoga tips ini membantu kamu dapet panggilan interview dari perusahaan impian! Remember, setiap “tidak” dari perusahaan adalah satu langkah lebih dekat ke “ya” yang tepat. Keep pushing!

