TULISKITA.COM – bingung waktu mau pasang harga jual produk? Takut kemahalan, nanti gak laku. Tapi kalau terlalu murah, eh malah boncos. Dilema banget, kan?
Tenang, kamu gak sendirian. Banyak pengusaha pemula yang ngalamin hal serupa. Kabar baiknya, sebenarnya ada rumus simpel yang bisa kamu pakai buat nemuin harga jual yang pas. Yuk, kita bahas bareng!

Kenapa Sih Harga Jual Penting Banget?
Sebelum masuk ke rumusnya, kita perlu paham dulu kenapa penentuan harga jual ini krusial banget. Harga jual yang tepat bukan cuma soal supaya gak rugi, tapi juga tentang keberlangsungan bisnis kamu jangka panjang.
Kalau harga terlalu rendah, margin keuntungan tipis. Akhirnya kamu capek kerja tapi untungnya dikit. Sebaliknya, kalau terlalu mahal, konsumen bisa kabur ke kompetitor. Makanya, butuh strategi yang matang.
Rumus Dasar Menentukan Harga Jual
Ini dia rumus ajaib yang bakalan nolongin kamu: Harga Jual = Modal Produksi + Keuntungan yang Diinginkan. Kedengarannya simpel banget, kan? Tapi tunggu dulu, ada beberapa komponen yang perlu kamu pahami.
Modal produksi di sini maksudnya adalah semua biaya yang kamu keluarkan untuk bikin satu produk. Mulai dari bahan baku, ongkos kerja, sampai biaya-biaya lain yang kadang suka kelewat.
Menghitung Modal Produksi (Harga Pokok Penjualan)
Langkah pertama adalah menghitung Harga Pokok Penjualan atau HPP. Ini fondasi dari semua perhitungan harga jual kamu. HPP terdiri dari tiga komponen utama:
- Biaya Bahan Baku: Semua material yang kamu butuhkan untuk bikin produk. Misalnya kamu jualan kue, ini termasuk tepung, gula, telur, dan bahan-bahan lainnya.
- Biaya Tenaga Kerja: Upah atau gaji yang kamu bayarkan untuk produksi. Kalau kamu yang buat sendiri, tetep hitung ya sebagai biaya.
- Biaya Overhead: Biaya-biaya tambahan seperti listrik, air, gas, penyusutan alat, dan biaya operasional lainnya.
Contoh konkretnya gini. Misalkan kamu jualan tas handmade. Biaya kain dan aksesoris Rp 15.000, biaya jahit Rp 8.000, dan biaya overhead seperti listrik dan benang sekitar Rp 2.000. Total HPP kamu adalah Rp 25.000 per tas.

Menentukan Margin Keuntungan
Setelah tahu HPP, langkah selanjutnya adalah menentukan berapa persen keuntungan yang kamu mau. Gak ada patokan baku sih, tapi umumnya margin keuntungan berkisar antara 20-50% tergantung jenis produk dan target pasar.
Kalau produk kamu termasuk fast moving atau cepat laku, margin bisa lebih kecil karena volumenya tinggi. Tapi kalau produk premium atau butuh effort lebih, margin bisa lebih besar.
Menggunakan contoh tas handmade tadi dengan HPP Rp 25.000, kalau kamu ingin margin 40%, maka perhitungannya: Keuntungan = Rp 25.000 x 40% = Rp 10.000. Jadi harga jual = Rp 25.000 + Rp 10.000 = Rp 35.000.
Jangan Lupa Biaya Tersembunyi
Nah, ini nih yang sering banget kelewatan. Banyak pebisnis pemula yang cuma hitung biaya produksi aja, tanpa mikirin biaya-biaya lain yang sebenarnya juga ngeluarin duit.
Beberapa biaya tersembunyi yang harus kamu masukkan dalam perhitungan:
- Biaya Packaging: Kardus, plastik, bubble wrap, stiker, semua itu butuh biaya lho.
- Biaya Pemasaran: Iklan di sosmed, bikin konten, promosi, semuanya perlu budget.
- Biaya Pengiriman: Kalau kamu yang nanggung ongkir atau kasih subsidi, hitung juga ini.
- Biaya Administrasi: Biaya transfer, fee marketplace, pajak, dan lain-lain.
Menurut data dari Jurnal.id, banyak UMKM yang mengalami kerugian karena tidak memasukkan biaya-biaya tersembunyi dalam kalkulasi harga jual mereka.
Riset Kompetitor Itu Wajib
Udah punya angka dari rumus? Jangan langsung dipake ya. Kamu perlu cek dulu harga pasar dan kompetitor. Bayangin aja, kamu udah hitung harga jual Rp 35.000, tapi ternyata kompetitor jual produk serupa Rp 25.000. Bisa-bisa produk kamu gak laku sama sekali.
Caranya gampang kok. Cek marketplace, toko online kompetitor, atau bahkan langsung survey ke toko fisik. Catat range harga yang ada di pasaran untuk produk sejenis.
Kalau harga kamu jauh lebih mahal, kamu perlu punya value proposition yang jelas. Misalnya kualitas lebih bagus, desain lebih unik, atau layanan after sales yang lebih oke. Intinya, konsumen harus tahu kenapa mereka harus bayar lebih mahal untuk produk kamu.
Strategi Pricing yang Bisa Kamu Coba
Selain rumus dasar tadi, ada beberapa strategi pricing yang bisa kamu aplikasikan sesuai kondisi bisnis kamu:
1. Cost-Plus Pricing
Ini metode paling umum dan yang udah kita bahas tadi. Kamu hitung total biaya, terus tambah margin keuntungan. Simpel dan aman, cocok buat pemula.
2. Value-Based Pricing
Metode ini fokus pada nilai yang dirasakan konsumen, bukan cuma biaya produksi. Kalau produk kamu punya nilai tambah yang significant, kamu bisa pasang harga lebih tinggi dari perhitungan HPP.
Contohnya produk organik atau handmade biasanya bisa dijual lebih mahal karena ada persepsi kualitas dan eksklusivitas.
3. Penetration Pricing
Ini strategi masuk pasar dengan harga murah dulu buat ngebuild customer base. Setelah punya banyak pelanggan loyal, baru deh naikin harga secara bertahap. Strategi ini lebih cocok kalau kamu punya modal cukup kuat.
4. Bundle Pricing
Jual produk dalam paket dengan harga lebih murah dibanding beli satuan. Strategi ini efektif buat naikin nilai transaksi dan bersihin stok.
Informasi lebih lanjut tentang strategi pricing bisa kamu baca di portal bisnis Kompas yang sering mengupas tips-tips bisnis praktis.
Tips Praktis Agar Gak Salah Hitung

Biar makin mantap dalam menentukan harga jual, ini beberapa tips yang bisa kamu praktikkan:
- Catat semua pengeluaran: Biasakan mencatat setiap rupiah yang keluar, sekecil apapun. Ini bakal ngebantu kamu hitung HPP dengan akurat.
- Review harga secara berkala: Harga bahan baku bisa naik-turun. Review minimal 3-6 bulan sekali buat mastiin harga jual kamu masih profitable.
- Gunakan tools: Manfaatkan aplikasi atau spreadsheet buat tracking biaya dan kalkulasi harga. Ini bikin hidup kamu jauh lebih mudah.
- Jangan takut adjust: Kalau ternyata harga kamu kurang tepat, jangan takut untuk menyesuaikan. Yang penting komunikasikan dengan baik ke pelanggan.
Platform seperti Tokopedia Blog juga sering share insight tentang strategi pricing yang bisa kamu pelajari.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Dari pengalaman banyak pengusaha, ini beberapa kesalahan klasik yang sering terjadi dalam menentukan harga jual:
Terlalu fokus pada harga kompetitor: Memang penting untuk tahu harga pasar, tapi kalau cuma ikut-ikutan tanpa hitung biaya sendiri, bisa bahaya. Struktur biaya setiap bisnis beda-beda.
Lupa hitung waktu dan tenaga: Apalagi kalau kamu yang langsung handle produksi, waktu dan tenaga kamu juga punya nilai. Jangan sampai kerja keras tapi gak dapet hasil yang setimpal.
Gak update harga saat biaya naik: Biaya produksi naik tapi harga jual tetep? Lama-lama margin kamu bakalan menipis dan bisnis jadi gak sustainable.
Pasang harga tanpa riset: Merasa produk kamu premium lalu asal pasang harga mahal tanpa validasi pasar. Ini resep paling ampuh buat produk gak laku.
Contoh Kasus Nyata
Biar makin jelas, yuk kita lihat contoh kasus. Misalnya Mbak Rina yang jualan kue kering homemade. Berikut breakdown biayanya untuk satu toples kue (isi 250 gram):
- Bahan baku (tepung, mentega, gula, dll): Rp 12.000
- Gas dan listrik: Rp 2.000
- Tenaga kerja: Rp 5.000
- Toples dan packaging: Rp 3.000
- Biaya marketing (dibagi rata): Rp 1.000
Total HPP = Rp 23.000. Mbak Rina ingin margin 35%, jadi keuntungan = Rp 23.000 x 35% = Rp 8.050. Harga jual = Rp 23.000 + Rp 8.050 = Rp 31.000 (dibulatkan jadi Rp 32.000).
Setelah riset, ternyata harga kue kering sejenis di pasaran berkisar Rp 30.000 – Rp 40.000. Mbak Rina kemudian memutuskan pasang harga Rp 35.000 karena kuenya dikemas lebih cantik dan ada garansi rasa.
Kesimpulan
Menentukan harga jual memang gak bisa asal-asalan. Tapi dengan rumus sederhana yang udah kita bahas tadi, kamu punya pegangan yang jelas. Kuncinya adalah menghitung semua biaya dengan teliti, menentukan margin yang realistis, dan selalu aware dengan kondisi pasar.
Ingat, harga jual yang pas adalah yang bikin kamu untung tapi tetep kompetitif di pasar. Jangan takut untuk eksperimen dan menyesuaikan strategi pricing kamu seiring perkembangan bisnis.

