TULISKITA.COMLagi buka aplikasi trading dan lihat portfolio merah semua? IHSG lagi jelek dan turun terus bikin stres? Kamu tidak sendiri!

Kondisi market turun atau bearish memang menguji mental setiap investor. Tapi tahukah kamu? Justru di saat seperti ini lah peluang terbesar untuk tetap cuan bahkan mengalahkan return saat market bullish.

Warren Buffett pernah bilang: “Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful.” Artinya, saat semua orang panik dan jual rugi, itulah waktu terbaik untuk berburu saham berkualitas dengan harga diskon.

Dalam artikel ini, saya akan bagikan strategi komprehensif yang bisa kamu terapkan segera untuk mengubah ancaman menjadi peluang. Mari kita mulai dengan memahami kenapa IHSG bisa turun drastis.

Mengapa IHSG Bisa Turun Drastis?

Sebelum masuk ke strategi, penting memahami faktor-faktor yang membuat IHSG lagi jelek:

Sentimen global negatif. Ketika bursa AS seperti Dow Jones atau S&P 500 anjlok, biasanya IHSG ikut tertekan karena investor asing menarik dana.

Kenaikan suku bunga The Fed. Suku bunga tinggi membuat obligasi AS lebih menarik dibanding saham emerging market seperti Indonesia.

Pelemahan rupiah. Nilai tukar yang melemah membuat investor asing khawatir dan melakukan aksi jual.

Kondisi ekonomi domestik. Inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi melambat, atau ketidakpastian politik bisa menekan IHSG.

Profit taking massal. Setelah rally panjang, investor institusi sering mengambil untung bersamaan, memicu koreksi tajam.

Krisis sektor tertentu. Misalnya penurunan harga komoditas yang memukul saham tambang dan energi.

Memahami penyebabnya membantu kamu mengambil keputusan lebih rasional, bukan emosional.

Mindset yang Tepat Saat Market Bearish

Sebelum bicara strategi teknis, mari perbaiki dulu mindset fundamental:

1. Market Turun Itu Normal dan Siklikal

Sejak berdirinya bursa saham Indonesia, sudah terjadi puluhan kali koreksi besar. Tapi coba lihat grafik jangka panjang IHSG: tren utamanya tetap naik!

Koreksi adalah bagian alami dari siklus pasar. Yang penting adalah bagaimana kamu meresponsnya.

2. Kerugian di Layar Belum Kerugian Riil

Selama kamu belum menjual saham di harga rendah, kerugian masih “unrealized loss” atau kerugian di atas kertas saja.

Banyak investor yang justru bangkrut bukan karena market turun, tapi karena panic selling saat harga paling rendah.

3. Volatilitas = Peluang

Saat IHSG lagi jelek, saham-saham blue chip berkualitas dijual dengan harga diskon 20-40% dari nilai wajarnya.

Ini seperti sale besar-besaran di mall favorit kamu. Orang bijak justru belanja lebih banyak saat diskon, bukan malah kabur.

4. Fokus pada Time in Market, Bukan Timing the Market

Mencoba menebak kapan tepatnya market bottom itu nyaris mustahil, bahkan untuk profesional sekalipun.

Yang lebih penting adalah konsisten berinvestasi dalam jangka panjang dengan strategi yang solid.

10 Strategi Tetap Cuan Saat IHSG Lagi Jelek

Sekarang masuk ke bagian yang kamu tunggu. Ini adalah strategi yang terbukti efektif untuk tetap cuan di market turun:

Strategi 1: Dollar Cost Averaging (DCA) – Senjata Utama Anti Rugi

Dollar Cost Averaging (DCA)

DCA adalah strategi membeli saham secara rutin dengan nominal yang sama, tanpa peduli harga naik atau turun.

Kenapa DCA efektif saat market turun?

Saat harga turun, dengan uang yang sama kamu bisa membeli lebih banyak saham. Sebaliknya saat harga naik, kamu otomatis beli lebih sedikit. Hasilnya: harga rata-rata beli kamu akan lebih optimal.

Contoh praktis:

Bulan 1: Beli saham BBCA Rp 10 juta saat harga Rp 8.000 → dapat 1.250 lembar Bulan 2: Beli lagi Rp 10 juta saat harga Rp 7.000 → dapat 1.428 lembar Bulan 3: Beli lagi Rp 10 juta saat harga Rp 6.500 → dapat 1.538 lembar

Total: 4.216 lembar dengan harga rata-rata Rp 7.116, lebih murah dari harga awal!

Tips DCA yang efektif:

  • Tentukan nominal tetap yang bisa kamu sisihkan setiap bulan (Rp 1 juta, 5 juta, atau 10 juta)
  • Pilih 3-5 saham blue chip dengan fundamental kuat
  • Beli di tanggal yang sama setiap bulan untuk kedisiplinan
  • Jangan stop meski market masih turun – justru ini kesempatan dapat lebih banyak lot

Strategi 2: Averaging Down pada Saham Fundamental Kuat

Averaging Down pada Saham Fundamental Kuat

Berbeda dengan DCA yang rutin, averaging down adalah membeli tambahan saat saham yang kamu pegang turun, untuk menurunkan harga rata-rata.

PERINGATAN PENTING: Strategi ini HANYA untuk saham dengan fundamental sangat kuat. Jangan averaging down saham gorengan atau saham bermasalah!

Cara averaging down yang benar:

  1. Verifikasi dulu fundamentalnya masih solid:
    • PBV masih di bawah 2x
    • DER tidak lebih dari 1x (kecuali sektor perbankan)
    • Net profit margin positif dan stabil
    • ROE di atas 15%
  1. Tentukan level support teknikal:
    • Beli bertahap di support kuat, jangan all-in di satu harga
    • Bagi modal menjadi 3-4 tranche
  1. Set cut loss absolut:
    • Meski fundamental bagus, tetap set batas maksimal kerugian (misalnya -30% dari posisi awal)

Contoh saham yang layak di-averaging down saat market turun:

  • Perbankan: BBCA, BMRI, BBRI
  • Konsumer: ICBP, INDF, UNVR
  • Infrastruktur: TLKM, PGAS

Strategi 3: Rotasi ke Saham Defensif

Rotasi ke Saham Defensif

Saat IHSG lagi jelek, saham defensive sector cenderung lebih stabil karena produk/jasanya tetap dibutuhkan meski ekonomi lesu.

Sektor defensif terbaik:

Consumer Staples (Kebutuhan Pokok)

  • ICBP (Indofood CBP) – mie instan dan snack tetap laku
  • MYOR (Mayora) – biskuit dan permen
  • INDF (Indofood) – produk konsumer massal
  • KLBF (Kalbe Farma) – obat-obatan

Utilities (Infrastruktur Dasar)

  • TLKM (Telkom) – telekomunikasi dengan dividen konsisten
  • PGAS (PGN) – gas untuk rumah tangga dan industri

Healthcare

  • HEAL (Medikaloka) – rumah sakit
  • MIKA (Mitra Keluarga) – layanan kesehatan

Strategi rotasi:

  1. Jual sebagian saham siklikal (tambang, properti) saat masih untung
  2. Pindahkan ke saham defensif
  3. Tunggu market membaik, lalu rotasi balik ke siklikal

Strategi 4: Manfaatkan Trading Range untuk Swing Trading

Manfaatkan Trading Range untuk Swing Trading

Saat market turun, IHSG dan saham-saham individual sering bergerak sideways dalam range tertentu.

Cara memanfaatkan:

  1. Identifikasi support dan resistance yang jelas
    • Support: level harga di mana pembelian cenderung muncul
    • Resistance: level harga di mana penjualan cenderung muncul
  1. Buy at support, sell at resistance
    • Beli saat harga mendekati support dengan konfirmasi volume
    • Jual saat harga mendekati resistance
    • Ulangi berkali-kali selama range belum break
  1. Gunakan indikator teknikal:
    • RSI (Relative Strength Index) – beli saat oversold (<30), jual saat overbought (>70)
    • Stochastic – konfirmasi momentum
    • Moving Average – identifikasi tren

Contoh: Saham BBRI bergerak di range 4.000-4.500 selama 3 bulan. Beli di 4.050-4.100, jual di 4.450-4.500. Profit 8-10% per cycle.

Catatan: Strategi ini untuk trader aktif, bukan long-term investor. Pastikan kamu punya waktu untuk monitoring.

Strategi 5: Diversifikasi Lintas Sektor dan Aset

Diversifikasi Lintas Sektor dan Aset

Jangan taruh semua telur di satu keranjang. Diversifikasi adalah kunci survival di market turun.

Formula alokasi ideal saat bearish:

30-40% Saham Blue Chip Defensif

  • Perbankan besar (BBCA, BMRI)
  • Consumer goods (ICBP, UNVR)

20-30% Reksa Dana Pendapatan Tetap

  • Obligasi pemerintah
  • Obligasi korporasi rating tinggi
  • Return stabil 5-7% per tahun

15-20% Emas

  • Safe haven asset saat ketidakpastian tinggi
  • Beli emas fisik atau saving gold
  • Atau lewat reksa dana emas

10-15% Saham Growth dengan Potensi Rebound

  • Sektor yang oversold tapi fundamental bagus
  • Siap-siap untuk rally saat market membaik

5-10% Cash

  • Dana darurat
  • Amunisi untuk buy the dip jika ada kesempatan bagus

Diversifikasi mengurangi risiko portfolio secara signifikan. Jika satu aset turun, aset lain bisa jadi buffer.

Strategi 6: Fokus pada Saham Dividend Yield Tinggi

Fokus pada Saham Dividend Yield Tinggi

Saat capital gain sulit didapat karena IHSG lagi jelek, dividen bisa jadi sumber return yang konsisten.

Keuntungan strategi dividen:

  • Dapat passive income rutin
  • Dividen bisa di-reinvest untuk beli lebih banyak saham
  • Saham high dividend yield cenderung lebih stabil

Saham dengan dividend yield menarik (>4% per tahun):

ASII (Astra International) – Yield 4-5%, dividen konsisten puluhan tahun

BBRI (Bank BRI) – Yield 4-6%, dividen tumbuh stabil

UNTR (United Tractors) – Yield 5-7%, tergantung siklus komoditas

TLKM (Telkom) – Yield 4-5%, BUMN dengan dividen stabil

HMSP (HM Sampoerna) – Yield 5-6%, meski kontroversial tapi dividen tinggi

Cara maksimalkan strategi dividen:

  1. Beli saham sebelum cum-date (tanggal terakhir mendapat hak dividen)
  2. Reinvest dividen yang didapat untuk compound effect
  3. Hold jangka panjang untuk kumulatif dividen maksimal

Strategi 7: Cut Loss pada Saham Bermasalah, Hold yang Berkualitas

Cut Loss pada Saham Bermasalah, Hold yang Berkualitas

Ini strategi yang paling sulit secara emosional tapi sangat penting: berani cut loss.

Kapan harus cut loss meski market lagi turun:

  1. Fundamental rusak: Perusahaan rugi beruntun, hutang membengkak, manajemen bermasalah
  2. Penurunan di luar kewajaran: Turun >50% padahal IHSG hanya turun 20%
  3. Terkena suspend atau delisting warning
  4. Bad news fundamental: Skandal korupsi, proyek gagal, margin anjlok

Kapan harus hold atau average down:

  1. Fundamental masih solid: Laba tumbuh, debt manageable, business model jelas
  2. Turun karena ikut market: Penurunan proporsional dengan IHSG
  3. Valuasi sudah murah: PER <10x, PBV <1.5x untuk saham berkualitas

Mindset yang benar: Cut loss bukan berarti kamu kalah. Ini adalah keputusan cerdas untuk preserve modal dan reallocate ke saham yang lebih potensial.

Lebih baik rugi 20% lalu pindah ke saham bagus yang bisa recovery, daripada hold saham bermasalah yang turun 80% dan nggak balik-balik.

Strategi 8: Buy the Dip Secara Terukur

“Buy the dip” artinya membeli saham saat harga turun tajam. Tapi jangan asal beli! Harus terukur dan strategis.

Cara buy the dip yang benar:

Level 1 – Koreksi 10-15%: Mulai survey saham-saham wishlist, belum beli Level 2 – Koreksi 15-25%: Beli 30% dari modal yang dialokasikan Level 3 – Koreksi 25-35%: Beli tambahan 40% dari modal Level 4 – Koreksi >35%: All-in sisa 30% modal (biasanya ini area bottom)

Indikator tambahan untuk buy the dip:

  • Volume jual yang mulai berkurang (capitulation phase)
  • RSI daily di bawah 30 selama beberapa hari
  • IHSG sudah turun 25%+ dari ATH
  • Sentimen media sudah sangat negatif (contrarian indicator)

Contoh praktis: Kamu punya dana Rp 50 juta untuk invest. Saat IHSG turun 20%, jangan langsung all-in. Masuk bertahap: 15 juta di koreksi 20%, 20 juta di koreksi 30%, 15 juta di koreksi 40%.

Strategi 9: Hedging dengan Kontrak Berjangka atau Emas

Hedging dengan Kontrak Berjangka atau Emas

Untuk investor yang lebih advanced, hedging bisa melindungi portfolio dari penurunan lebih lanjut.

Cara hedging sederhana:

Beli Emas Fisik atau Emas Digital

  • Alokasikan 15-20% portfolio ke emas
  • Saat saham turun, emas cenderung naik
  • Netralkan sebagian kerugian di saham

Reksa Dana Terproteksi

  • Produk yang menjamin return minimal
  • Cocok untuk sebagian dana yang butuh certainty

Fixed Income

  • Obligasi atau reksa dana pendapatan tetap
  • Return stabil meski market turun

Strategi collar untuk advanced trader:

  • Buy put option (asuransi saat turun)
  • Sell call option (terima premium)
  • Net cost minimal tapi portfolio protected

Hedging memang mengurangi potensi profit, tapi juga membatasi downside risk. Cocok untuk yang prioritasnya preserve capital.

Strategi 10: Manfaatkan Tax Loss Harvesting

Manfaatkan Tax Loss Harvesting

Ini strategi yang jarang dibahas tapi bisa menguntungkan secara pajak.

Konsep tax loss harvesting: Jual saham yang rugi untuk offset capital gain dari saham yang untung, sehingga mengurangi beban pajak.

Contoh:

  • Saham A: Profit Rp 20 juta → kena pajak 0.1% dari nilai jual
  • Saham B: Loss Rp 10 juta → nggak ada pajak

Jika kamu jual Saham B, loss-nya bisa mengurangi taxable gain dari Saham A (tergantung regulasi setempat).

Cara aplikasi di Indonesia: Meski Indonesia belum menerapkan tax loss harvesting seperti AS, kamu bisa:

  1. Rebalance portfolio dengan jual saham merugi
  2. Beli saham yang lebih prospektif dengan modal yang sama
  3. Dokumentasi loss untuk pelaporan pajak

Catatan: Konsultasikan dengan tax consultant untuk implementasi yang sesuai regulasi.

Saham Defensif yang Tahan Banting Saat IHSG Lagi Jelek

Berikut adalah saham-saham yang historisnya paling tahan saat market bearish:

Tier 1 – Super Defensive (Wajib Punya)

BBCA (Bank BCA) – Raja perbankan Indonesia, LDR sehat, NPL rendah, digitalisasi terdepan

ICBP (Indofood CBP) – Produk kebutuhan pokok (Indomie, dll), margin stabil

KLBF (Kalbe Farma) – Obat-obatan tetap dibutuhkan meski resesi

Tier 2 – Defensive dengan Growth

BMRI (Bank Mandiri) – BUMN banking terbesar, dividen menarik

TLKM (Telkom) – Monopoli infrastruktur telco, dividen konsisten

UNVR (Unilever) – Consumer goods, brand power kuat

Tier 3 – Cyclical tapi Fundamental Kuat

ASII (Astra) – Konglomerasi, diversifikasi bisnis luas

BBRI (Bank BRI) – Eksposur UMKM, recovery strong post-crisis

INDF (Indofood) – Holding company produk konsumer

Fokus portfolio di saham-saham ini saat market turun untuk meminimalkan volatilitas.

Instrumen Alternatif Saat Market Turun

Kalau saham terlalu volatile, ada alternatif lain yang bisa dikombinasikan:

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Return stabil 5-7% per tahun, risiko jauh lebih rendah dari saham. Cocok untuk alokasi 20-30% portfolio saat bearish.

Rekomendasi:

  • Sucorinvest Bond Fund
  • Bahana Dana Pendapatan Tetap Optimal
  • Mandiri Investa Dana Obligasi

Obligasi Pemerintah (SBN)

Dijamin pemerintah, return 6-7% per tahun. Bisa dibeli mulai Rp 1 juta di aplikasi seperti Bareksa atau Tanamduit.

Jenis SBN:

  • SBR (Savings Bond Ritel) – bisa dicairkan sebelum jatuh tempo
  • ORI (Obligasi Republik Indonesia) – fixed rate
  • Sukuk – versi syariah

Emas

Safe haven klasik. Saat rupiah melemah dan saham turun, emas cenderung naik.

Cara invest emas:

  • Emas fisik (Antam, UBS)
  • Tabungan emas (Pegadaian, Tokopedia)
  • Reksa dana emas (lebih likuid)

Deposito untuk Dana Darurat

Return 3-5% per tahun, tapi sangat aman dan likuid. Cocok untuk 10-15% portfolio sebagai emergency fund.

Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Saat IHSG Lagi Jelek

Ini adalah kesalahan yang membuat banyak investor bangkrut saat market bearish:

1. Panic Selling di Harga Terendah

Ini kesalahan nomor 1! Banyak investor yang hold saham bagus bertahun-tahun, tapi begitu market crash langsung jual rugi karena panik.

Ingat: Kerugian baru realized kalau kamu jual. Selama belum jual, masih ada harapan recovery.

2. Averaging Down Saham Gorengan

Saham gorengan yang turun 70% kemungkinan besar nggak akan balik. Jangan averaging down saham yang fundamentalnya jelek.

Prinsip: Average down hanya untuk saham blue chip berkualitas.

3. All-in di Satu Timing

Mencoba catch bottom dengan masuk all-in di satu harga adalah gambling, bukan investing.

Selalu beli bertahap karena kamu nggak pernah tahu kapan tepatnya bottom.

4. Pinjam Uang untuk Invest

Jangan sekali-kali invest pakai uang pinjaman atau margin saat market turun. Risiko margin call sangat tinggi.

Hanya gunakan dana dingin yang siap tidak tersentuh 3-5 tahun.

5. Terlalu Sering Cek Portfolio

Cek portfolio setiap 5 menit saat market merah hanya akan meningkatkan stress dan meningkatkan kemungkinan keputusan emosional.

Solusi: Batasi cek portfolio maksimal 1-2x sehari, atau bahkan seminggu sekali kalau kamu long-term investor.

6. Ikut FOMO ke Saham Rebound Tanpa Riset

Saat market mulai rebound, ada banyak saham yang naik tajam. Jangan FOMO masuk tanpa riset fundamental.

Bisa jadi itu hanya dead cat bounce (pantulan kucing mati) yang akan turun lagi.

7. Lupa Rebalancing Portfolio

Saat market turun, komposisi portfolio berubah. Saham yang tadinya 60% bisa jadi cuma 40% karena turun nilai.

Lakukan rebalancing setiap 3-6 bulan untuk maintain alokasi ideal.

IHSG lagi jelek memang menantang, tapi bukan berarti kamu harus pasrah merugi. Dengan strategi yang tepat, kamu justru bisa tetap cuan di market turun bahkan mengalahkan return saat bullish.

Recap 10 strategi utama:

  1. Dollar Cost Averaging (DCA) – Beli rutin dengan nominal tetap
  2. Averaging Down – Tambah posisi saham berkualitas saat turun
  3. Rotasi ke Saham Defensif – Pindah ke consumer staples dan utilities
  4. Swing Trading di Range – Manfaatkan volatilitas untuk profit
  5. Diversifikasi – Jangan all-in saham, kombinasi dengan obligasi dan emas
  6. Fokus Dividen – Passive income saat capital gain sulit
  7. Cut Loss Selektif – Berani lepas saham bermasalah
  8. Buy the Dip Terukur – Masuk bertahap, bukan all-in
  9. Hedging – Proteksi dengan emas atau fixed income
  10. Tax Loss Harvesting – Optimasi pajak dengan jual rugi strategis

Prinsip emas yang harus diingat:

  • Market bearish adalah bagian normal dari siklus – ini akan berlalu
  • Investasi adalah marathon, bukan sprint
  • Disiplin dan konsistensi mengalahkan timing yang sempurna
  • Fundamental kuat selalu menang dalam jangka panjang
  • Risk management lebih penting daripada profit maksimal

Action steps untuk kamu mulai sekarang:

  1. Evaluasi portfolio – mana yang layak hold, mana yang harus cut loss
  2. Siapkan dry powder (cash) 20-30% untuk buy the dip
  3. Buat watch list 5-10 saham blue chip yang mau dibeli saat turun lebih dalam
  4. Set up auto-invest untuk DCA bulanan
  5. Diversifikasi ke instrumen lain (obligasi, emas) untuk balance risk

Ingat, investor terkaya dunia seperti Warren Buffett justru mengumpulkan kekayaannya dengan membeli saat market crash dan hold jangka panjang.

Tim Redaksi
Editor
Tim Redaksi
Reporter